Postingan

"Bully" di Media Sosial

Kamis, 19 Februari 2015, kalender merupakan tanggal merah yang berarti merupakan hari libur Imlek. Namun kondisi berbeda di bandara Soekarno-Hatta justru panas. Maskapai Lion Air dihujat dan dimaki oleh para calon penumpangnya karena delay yang terlalu lama hingga 13 jam. Suasana tak kalah panas bahkan lebih justru ada di media sosial. Dan seperti biasa, keramaian itu berasal dari bully- an dari pemilik Twitter ataupun Facebook. Meski bukan termasuk penumpang ataupun pihak yang dirugikan, tapi justru pengguna yang ikut nyinyir dan berkomentar negatif pada maskapai tersebut. Bahkan makin ramai dengan hastag serta sindiran-sindiran yang dilontarkan. Memang, dunia media sosial penuh warna seperti itu. Lion Air bukanlah korban pertama nyinyiran para netizen. Dan tiap ada sesuatu yang menjadi topik perbincangan, hampir pasti akan semakin ramai dengan komentar-komentar di media sosial. Memang itulah yang menjadikan media sosial penuh warna. Media sosial akan kaku dan hambar ji...

Ponsel Bukan Sekedar Gengsi

Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke sebuah Mall. Rencana saya sederhana, hanya ingin memasang anti gores di ponsel yang sudah beberapa bulan tidak diganti. Di sela-sela pemasangan anti gores, saya mendengar percakapan seseorang yang sedang membeli smartphone Samsung Galaxy S5. Penjual menawarkan untuk disetting aplikasi serta mensinkronkannya dengan akun Googlenya. Namun jawaban sang pembeli merasa tak perlu semua itu, karena menurutnya yang penting bisa SMS dan telepon saja. Akhir-akhir ini, kejadian di outlet penjualan ponsel seperti di atas sudah sering terjadi. Perkembangan teknologi yang makin pesat tidak diimbangi kemampuan penggunaan yang cepat pula. Maksud saya, hampir setiap tahun muncul ponsel dengan fitur dan kemampuan makin canggih, namun hanya beberapa orang yang mampu memaksimalkannya secara optimal. Selebihnya, tak ada perubahan penggunaan seperti layaknya ponsel yang sudah terlebih dahulu beredar. Membeli ponsel, sebenarnya adalah membeli fitur dan ...

Trend di Era Digital

Seperti yang kita tahu, perkembangan dunia teknologi makin pesat ke arah serba digital. Era digital telah membuat manusia memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dengan perangkat yang serba elektronik. Teknologi menjadi alat yang membantu kebutuhan manusia. Dengan teknologi, apapun dapat dilakukan dengan lebih mudah. Begitu pentingnya peran teknologi inilah yang mulai membawa peradaban memasuki ke era digital. Paper Less Beberapa waktu lalu, penggunaan kertas menjadi sangat penting. Ambil contoh ketika mengambil foto, membutuhkan kertas untuk mencetaknya. Pun dengan segala macam dokumen yang membutuhkan kertas untuk mencetaknya. Selain itu pula buku-buku pun terdiri dari banyak lembaran-lembaran kertas. Era digital makin menjadikan penggunaan kertas menjadi lebih sedikit. Memang, penggunaan kertas tidak dapat dihilangkan begitu saja. Penggunaan kertas memang masih dibutuhkan, namun jumlahnya makin dibatasi. Media penyimpanan seperti flashdisk memegang peran p...

Bot dan Spammer yang Menjengkelkan

Media sosial yang sedang populer saat ini. Untuk itu, banyak yang memanfaatkan untuk turut populer juga memanfaatkan sosial media ini. Misalnya saja untuk pemilik sebuah usaha, memanfaatkannya sebagai media promosi yang murah, serta banyak menjangkau banyak orang. Maklum, beriklan dan berpromosi di media massa seperti televisi, surat kabar ataupun internet, masih terbilang mahal, terutama bagi ekonomi kecil. Promosi melalui media sosial macam Facebook dan Twitter, pun menjadi favorit beberapa pelaku usaha. Tak jarang, beberapa teknik promosi memanfaatkan "bot" yang secara otomatis mencari keyword tertentu dan mengirim mention ke "target" promosi yang dituju. Isinya tentu saja kadang tidak nyambung dengan apa yang sebenarnya diposting oleh seseorang. Ambil contoh, ketika Anda sedang berbalas mention dengan teman, kemudia mengetik sebuah keyword tertentu, bisa jadi setelah itu akan masuk mention dari akun yang tidak dikenal menawarkan sesuatu. Dan jika diperha...

Sedang Musim Surat Terbuka

Sejak Pilpres 2014 kemarin, saya memperhatikan, banyak pihak menulis sebuah surat terbuka ke beberapa orang. Silakan googling frasa "surat terbuka" maka akan banyak muncul versinya. Ada yang ditujukan ke Capres, Tim Pendukung, Presiden, ustadz, dan sebagainya. Fenomena menulis surat terbuka ini pun makin populer, tak cuma itu, bahkan ada yang sengaja menulis surat terbuka untuk membalas surat terbuka yang sudah ada. Dan ternyata, dengan cara menulis surat terbuka ini dapat lebih mudah didengar dan agaknya efektif. Media massa dan elektronik sebenarnya memiliki rubrik surat pembaca pun juga opini. Kedua rubrik tersebut ditujukan pada orang yang ingin menyampaikan gagasan ataupun opininya. Biasanya, di surat pembaca pun berisi ketidakpuasan terhadap sesuatu. Namun mungkin, karena sulitnya menembus rubrik opini di media massa, sekarang muncul trend seseorang menulis surat terbuka di Facebook ataupun blognya. Tak ada tekanan, tak ada editan, surat terbuka muncul dan ditulis ...