Postingan

Kabel Data "Fast Charging"

Gambar
Saya memiliki kebiasaan buruk. Entah kenapa saya sering sekali kehilangan atau bahkan merusakkan kabel data sekaligus kabel charge ponsel yang saya miliki. Mungkin hampir belasan kabel yang saya miliki rusak atau hilang entah kemana. Saya termasuk orang dengan aktivitas dan mobilitas yang tinggi. Disamping itu, ponsel pintar adalah benda yang sangat penting menemani segala aktivitas yang saya lakukan. Disaat aktivitas penggunaan ponsel yang cukup intens, tentunya saya membutuhkan kabel data untuk mengisi daya dan juga memindahkan data ke komputer. Saya sendiri jarang menggunakan powerbank, karena kurang praktis. Dengan alasan tersebut, tentunya saya membutuhkan sebuah kabel yang dapat diandalkan. Beruntung saya memiliki ponsel dengan lubang berbentuk micro sd sehingga bisa digunakan bergantian dengan ponsel lain serta mudah didapatkan. Meskipun ponsel yang baru sudah meninggalkannya diganti dengan USB type C. Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke sebuah bazar di pusat perbelanjaa...

Kegalauan Karena Ponsel Rusak

Belakangan saya merasa tidak dalam kondisi perasaan yang baik. Ponsel yang menjadi andalan saya untuk bekerja dan menulis di blog mengalami kerusakan. Entah apa sebabnya, saat saya gunakan tiba-tiba muncul garis vertikal di layar yang tidak dapat dihilangkan. Mungkin ini bukan suatu kerusakan yang parah, namun tetap saja tidak nyaman saat digunakan. Apalagi ponsel saya yang lain mengalami kerusakan serupa (terdapat "noda" di layar) sejak sebulan yang lalu. Ponsel saya ini bukanlah ponsel biasa. Ponsel ini lumayan jarang didapatkan di pasaran. Dari segi umur, ponsel ini memang terbilang tua. Ponsel yang launching tahun 2014 namun baru beberapa bulan yang lalu saya beli. Meski software dan spesifikasi terbilang sudah berumur, namun mengingat performa yang masih bagus serta harga yang turun drastis menjadi alasan saya dalam membeli ponsel tersebut. Rusaknya ponsel memang merupakan suatu hal yang menyebalkan di era saat ini. Bayangkan saja, ponsel merupakan "alat bantu...

"Simalakama" Pembajakan

Di era digital seperti sekarang ini, mendapatkan beragam hiburan seperti film, musik dan aplikasi software begitu mudah. Dengan membayar sejumlah uang, bahkan kita dapat men-download sejumlah layanan langsung dari komputer ataupun ponsel pintar yang kita miliki. Selain itu, beberapa mungkin bisa didapat secara gratis. Namun, dengan serba kemudahan itu kadang disalahgunakan oleh pengguna internet dalam mendownload layanan ataupun media secara ilegal, atau yang biasa kita sebut dengan pembajakan. Secara umum, pembajakan dilakukan karena mahalnya versi originalnya. Misalnya saja software yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, ataupun musik, lagu dan buku elektronik (e-book) berharga ratusan ribu rupiah bisa didapat secara gratis dengan mengunduh versi bajakannya. Dan uniknya, para pengunduh ini merasa tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan. Pembajakan memang memiliki beberapa sudut pandang. Di satu sisi, pembajakan merugikan si pemilik hak cipta. Para kreator lagu, film...

"Cyber War"

Judulnya lebay, hehehe. Bukan, ini bukanlah cyber war dengan aksi saling hack dan lain sebagainya. Ini soal perang opini (debat) di media sosial. Temanya apalagi jika bukan tentang politik. Entah kenapa tema ini mendominasi beragam perang argumen di media sosial akhir-akhir ini. Saya penasaran apakah energi yang mereka habiskan untuk "berperang" tidak sia-sia? Ataukah memang ada bayaran? Entahlah. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta masih beberapa bulan lagi, namun gaungnya sudah semakin memanas saja di media sosial. Para pendukung masing-masing calon saling mengelu-elukan jagoannya. Perang opini ini mengingatkan kita pada Pilpres 2014 kemarin yang juga panas. Tak hanya saling beradu program, para pendukung ikut pula mempertahankan jagoannya dengan mencaci calon yang lain. Panas sekaligus membuat miris. Media sosial yang harusnya menyenangkan berubah menjadi medan perang. Media sosial merupakan sarana beriklan (dan juga kampanye) yang cukup murah dan efektif. Hari gini siapa sih...

Rela Setor Data?

Di jaman sekarang, kita tentu paham jika semua pengguna ponsel pintar juga secara otomatis memiliki akun media sosial. Minimal ada satu media sosial yang senantiasa aktif digunakan setiap harinya. Bahkan sebagian besar saya yakin menggunakan media sosial ini sebagai alat komunikasi utama, misalnya saja BBM ataupun WhatsApp. Media sosial merupakan salah satu bagian dari gaya hidup masa kini. Seolah kita dianggap aneh jika hanya bisa dihubungi melalui telepon dan SMS serta tidak memiliki media sosial satupun. Perkembangan teknologi informasi telah menciptakan "komunitas" internet yang menjadi tempat beraktivitas sehari-hari. Namun, di sisi lain media sosial dan internet juga menyimpan sebuah dilematis. Data pribadi yang bersifat pribadi mau tidak mau akan terbuka karena dengan memiliki akun media sosial dan menggunakan internet kita dipaksa untuk menyerahkan identitas. Tak hanya identitas, aplikasi seperti chatting pun berarti kita "mempersilakan" si pemilik layanan...

Kehebatan Sebuah Ponsel

Tahun 2005 adalah untuk pertama kalinya saya memiliki ponsel sendiri. Meskipun pada saat itu saya hanya mampu membeli sebuah ponsel bekas, namun tetap memiliki kebanggan tersendiri. Waktu itu, ponsel sudah bukan lagi menjadi barang yang langka. Sudah banyak yang memiliki, meski patut diakui, harganya masih terbilang tinggi. Saat pertama kali memiliki ponsel tersebut, bukan berarti saya bebas untuk berkomunikasi. Maklum saja, saat itu saya masih berstatus mahasiswa. Tarif telepon dan SMS (yang ponsel saya hanya mampu lakukan) masih begitu mahal. Jadi, saya agak menghemat dengan jarang telepon ataupun mengirim SMS jika kurang begitu penting. Fungsi dasar sebuah ponsel adalah telepon dan SMS. Ponsel merupakan salah satu revolusi dalam teknologi telekomunikasi. Dulu, mobilitas orang dalam berkomunikasi jarak jauh amat terbatas. Pemilik telepon rumah (kabel) pun hanya segelintir orang dan menyentuh kalangan terbatas. Dengan hadirnya telepon seluler, mobilitas orang berkomunikasi makin lua...

"Kebablasan" Berpendapat

Sore ini, timeline Twitter saya dipenuhi berbagai protes terkait kebijakan menyamarkan gambar (blur) yang dilakukan stasiun televisi saat menayangkan acara PON. Kebanyakan sih, protes ditujukan pada KPI yang menurut mereka telah membuat kebijakan sensor yang berlebihan, sehingga esensi tayangan justru tidak didapat oleh pemirsa televisi. Saya tidak bermaksud untuk ikut dalam perdebatan blur tayangan televisi ini. Saya tidak dalam posisi mendukung ataupun menolak sensor yang dilakukan oleh KPI terhadap tayangan televisi di Indonesia. Namun, fenomena untuk saling menyampaikan pendapat di media sosial ini menarik, hingga opini-opini yang berkembang mampu menjadi trend (trending topic). Kita bersyukur hidup di era digital yang serba mudah seperti saat ini, dimana kebebasan menyampaikan pendapat dijamin oleh undang-undang. Bahkan tak hanya itu, fasilitas guna menyampaikan pendapat pun telah banyak tersedia. Tak harus melakukan demonstrasi, menyampaikan pendapat bisa dilakukan di media sos...