Postingan

Redmi 4A, Cocok Untuk Pekerjaan Ringan

Aplikasi apa di Android yg Anda perlukan dalam mendukung pekerjaan? Bila Anda bukanlah seorang programmer ataupun desain grafis, paling aplikasi anak kantoran macam Email, Office, dan sejenisnya. Aplikasi semacam itu tentunya tidak memerlukan ponsel dengan spesifikasi yang tinggi. Setidaknya dengan menggunakan Redmi 4A, saya secara pribadi merasa ponsel pintar ini sudah mumpuni digunakan untuk bekerja. Selama tiga hari terakhir, saya memang sengaja mengandalkan Redmi 4A sebagai daily driver yang mendukung saya untuk bekerja. Saya pun mengatur aplikasi penting macam Email dan layanan perpesanan (WhatsApp dan BBM) senantiasa mulai otomatis. Disamping itu, saya pun rutin menggunakan beberapa aplikasi cloud dan juga WPS Office untuk membuka dan terkadang meng-edit dokumen secara sederhana. Dan dalam menjalankan beragam aplikasi tersebut, saya tidak menemukan masalah yang berarti. Dalam tiga hari terakhir ini, saya belum menggunakan ponsel Redmi 4A ini untuk bermain game. Saya belum bisa ...

Kesan Pertama Redmi 4A : Bagus Sih, Tapi ...

Hari ini, saya menggunakan ponsel Xiaomi Redmi 4A. Varian termurah dari Xiaomi ini rencana mau saya gunakan sebagai daily driver selama bulan puasa. Saya menggunakan varian RAM 2 GB dengan memori internal sebesar 32 GB. Secara keseluruhan, ponsel ini masih cukup nyaman dipakai. Mungkin karena ponselnya masih baru. Untuk pertama kalinya menggunakan seperti biasa saya meng-instal beberapa aplikasi yang saya perlukan. Untuk sinkronisasi dengan akun Google serta Mi Cloud berjalan sebagaimana mestinya. Inilah salah satu keunggulan menggunakan ponsel Xiaomi, beragam setelan tak perlu diset dari awal, tinggal sinkronisasi dari akun yang sudah tersimpan. Kesan pertama menggunakannya untuk sosial media sudah lumayan gegas dan lancar. Kalau dicari kelemahan mungkin ada di build quality yang menggunakan bahan plastik dengan kesan ringkih dan terlalu ringan. Namun, bagi yang mencari ponsel terjangkau dengan konektivitas yang sudah 4G, mungkin layak menjadi salah satu pertimbangan. Untuk performa...

Ponsel Blackberry dan WhatsApp

Semalam saya berdiskusi dengan seorang teman. Nah, teman saya ini masih menggunakan Blackberry Z10 sebagai daily driver. Saya agak terkejut dengan hal ini. Maklum ponsel Blackberry non Android agaknya sudah mulai ditinggalkan. Apalagi dukungan aplikasi untuk ponsel dengan OS BB 10 tersebut tidak sebanyak Android dan iOS.. Kebutuhan utama teman saya tersebut adalah ponsel untuk bekerja. Di awal tahun 2000an, alasan tersebut saya nilai masih cukup masuk akal. Dulu, sebelum kehadiran iPhone, Blackberry sukses menjadi ponsel pilihan para pebisnis dan pekerja. Kehadiran Blackberry Messenger (BBM) yang tak hanya menjadi aplikasi perpesanan biasa menjadi alasan utamanya. Dengan BBM, orang tak hanya dipermudah berkirim pesan, namun gambar serta berbagai file lainnya. Lebih efektif dibanding harus mengandalkan e-mail. Namun, ketika kembali ke saat sekarang, Blackberry sudah tidak seperkasa dulu. BBM sudah mulai kalah bersaing dengan WhatsApp. Ponsel Blackberry sekarang pun sudah mulai ditingg...

Redmi Note 4 : Bukan Untuk yang Bosan MIUI

Xiaomi membosankan. Saya atau mungkin beberapa orang mengalami hal yang sama. Xiaomi memang salah satu produsen ponsel yang menurut saya cukup inovatif. Terutama karena dia menggunakan user interface (UI) sendiri yang berbeda dengan android kebanyakan bernama MIUI. Xiaomi pun rajin memberikan update MIUI pada ponsel-ponsel mereka, hingga penggunanya bisa memaksimalkan fitur andalan di UI tersebut. Namun belakangan saya mulai bosan dengan MIUI. Saya merasa menggunakan ponsel baru (Redmi Note 4) tidak se-excited seperti kala pertama mencoba Xiaomi. Ponsel Xiaomi pertama saya dulu Redmi 2, dan kala itu terkagum mencobanya. Ponsel Xiaomi berbeda dengan Android kebanyakan yang kala itu menggunakan UI bawaan dari Google. Namun setelah menggunakan empat ponsel Xiaomi, saya mengalami kebosanan. Bahkan kebosanan itu "menjalar" kala saya menggunakan UI yang mirip seperti Color OS milik Oppo. Tidak ada lagi perasaan kagum sebagaimana dulu saya pertama kali menggunakan Redmi 2. Untuk ...

USB On The Go

Pernah saya tulis jika akhir-akhir ini menghadapi kendala pada internal storage di ponsel. Seiring berjalannya waktu, ponsel saya yang kebetulan sering saya pakai untuk bekerja, memori internalnya sudah hampir mencapai 50%. Memang dimaklumi sih, ponsel ini hanya memiliki memori internal sebesar 16 GB dan tidak memiliki slot micro sd memberi sedikit masalah pada saya terkait media penyimpanan. Ditambah data-data aplikasi maka penyimpanan yang saya miliki tersisa kurang dari 7 GB. Pilihan awal mau tidak mau saya menggunakan cloud storage yang sedang populer. Cara ini praktis namun memiliki kelemahan dimana saya memerlukan kuota saat melakukan back-up, pun koneksi internet kita ketahui sendiri di Indonesia terkadang kurang stabil. Inilah alasan saya memilih salah satu cara penyimpanan data yang lain di USB Flash Drive (flashdisk). Sebelum memiliki ponsel pintar, saya sudah terbiasa menyimpan data dan dokumen di flash disk. Kebanyakan data saya adalah dokumen berupa .doc, .xls,  dan ...

Menjadikan Moto E3 Power Sebagai Daily Driver

Saya menulis ini karena beberapa orang terlihat meremehkan ponsel besutan Motorola yang kini diakuisisi Lenovo ini. Ponsel ini memang biasa saja. Bukan kategori ponsel flagship. Beberapa fitur kekinian seperti sensor sidik jari pun absen di ponsel ini. Demi mengejar harga (mungkin) ponsel ini tidak berbahan metal seperti ponsel kebanyakan saat ini. Ponsel Moto E3 Power masih mengandalkan casing plastik dengan baterai yang dapat dilepas. Jika Anda mengharapkan ponsel yang dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi berat, maka ponsel ini bukan alternatif yang baik. Clockspeed prosesor yang hanya 1 Ghz menjadikannya kurang gegas dalam membuka aplikasi. Namun bila Anda membutuhkan ponsel untuk berbisnis, saya pikir ponsel ini sudah lebih dari cukup. Pertama, saya akan membahas aplikasi-aplikasi yang wajib ada pada ponsel daily driver untuk bisnis. Saya menerima dan berkirim email menggunakan ponsel ini. Email saya setting di aplikasi Gmail, pun tentu saja dengan akun Email Gmail saya. To...

Menyerah dengan OS Tizen

Bila ditanya mengenai smartphone saat ini, maka kemungkinan akan mengerucut pada dua OS yang mendominasi yakni iOS milik Apple dan Android yang dimiliki oleh Google. Keduanya saling berbagi pangsa pasar ponsel pintar di dunia ini. Sebenarnya masih ada Windows Phone besutan Microsoft, namun nasibnya kini tidak jelas. Pun dengan OS yang dikembangkan oleh Samsung yang bernama Tizen. Sebelumnya saya telah mencoba keempat OS diatas. Saya menggunakan Android hingga versi 6.0, iOS 9, Windows Phone 8.0, dan Tizen 2.0. Jadi opini saya dalam tulisan ini tentu saja berdasar pengalaman penggunaan. Untuk itulah saya menilai Android dan iOS yang masih bertahan, karena secara pribadi saya sudah menyerah menggunakan Windows Phone dan juga Tizen. Dukungan developer yang terbatas, menyebabkan aplikasi yang dihadirkan tak sebanyak Android dan iOS menjadi alasan utama saya enggan kembali menggunakan ponsel ber-OS Windows Phone dan Tizen. Kini Samsung berencana kembali mengeluarkan ponsel baru ber-OS Tiz...