Pagi ini, seorang teman lama saya tiba-tiba memasukkan akun Facebook saya ke sebuah grup yang aneh. Grup berbahasa Inggris, yang tampaknya tidak terurus. Tampak aneh karena yang teman saya ini karakternya agaknya tidak mungkin menyarankan saya masuk ke grup yang tidak jelas seperti itu. Dan benar saja, ketika saya konfirmasi, ternyata dia tidak merasa memasukkan akun saya ke grup tersebut. Bahkan, tambahnya, sudah sekitar 1 tahun dirinya tidak aktif di Facebook. Passwordnya pun lupa. Saya pernah mengibaratkan jika media sosial bagaikan sebuah rumah di dunia maya. Kuncinya ada di password. Dan bila password jatuh ke tangan orang lain, maka terjadilah pencurian. Pun seperti rumah yang tak terurus, akun yang dibiarkan lama pun rawan dibobol oleh yang tidak berkepentingan. Mungkin ada baiknya ketika sudah tidak berminat untuk menggunakan sebuah akun media sosial lebih baik dihapus saja, alih-alih hanya menganggurkannya. Akun tak bertuan seperti itu tentu saja pengamanannya tak seperti a...
Suatu Sore diantara linimasa Twitter saya, ada yang share sebuah link membahas hal yang cukup menarik. Di artikel tersebut, membahas seorang yang populer di Twitter atau lebih dikenal dengan selebtwit. Berbeda dengan selebtwit yang lain, untuk seseorang ini terbilang cepat untuk populer. Dan ternyata, popularitasnya didapat dengan cara menjiplak kutipan ( quote ) orang lain serta membeli follower sebagai modal. Setiap Orang Populer dengan Caranya Sah-sah saja mengejar popularitas. Pun tak hanya di dunia nyata, di media sosial juga ingin sekali menjadi terkenal. Hanya saja, popularitas bukanlah hal pokok dan utama dalam bermedia sosial. Apalagi jika popularitas didapat dengan cara tidak jujur seperti mengaku-aku karya ataupun kutipan orang lain seolah merupakan ciptaannya. Sungguh, itu bukanlah hal yang etis bermediasosial. Paling pokok, media sosial adalah tempat berinteraksi. Satu sama lain memiliki kesempatan mengutarakan pendapatnya. Satu sama lain juga ingin did...
Prostitusi online belakangan menjadi hal trend untuk dibicarakan. Hal ini bermula dari sebuah kejadian ditemukannya Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ditemukan meninggal di sebuah kamar kost di daerah Tebet, Jakarta. Ketika ditelusuri, ternyata terkuak, PSK ini dibunuh oleh sang "pelanggan". Bukan ini saja yang menjadi bahan pembicaraan. Namun justru cara sang PSK yang bernama Deudeuh ini mendapatkan pelanggannya dengan cara "berpromosi" melalui Twitter. Sejalan dengan seorang Deudeuh yang, muncul kembali kasus prostitusi yang melibatkan media sosial di internet. Terkuaknya kasus prostitusi "kelas atas" yang tidak tanggung-tanggung melibatkan para artis. Di berbagai pemberitaan, disebutkan seseorang berinisial RA mengenalkan para artis pada pria hidung belang dengan menggunakan media Blackberry Messenger (BBM). Tak tanggung-tanggung, jika tarif seorang Deudeuh yang merupakan warga biasa, dihargai Rp. 300.000, kasus prostitusi artis dihargai seb...
Komentar