Setiap musim pemilihan, baik itu Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada, selalu diramaikan dengan aksi para calon dan pendukungnya. Dan karena jaman sekarang aktivitas tidak hanya berkutat di dunia nyata, ranah media sosial pun menjadi sasaran. Bahkan mungkin bisa dikatakan kampanye melalui media sosial bisa lebih efektif, karena orang jaman sekarang lebih sering mengaksesnya ketimbang membaca koran ataupun menonton televisi yang sudah mulai ditinggalkan. Di media sosial, memang merupakan wahana yang efektif dalam menyalurkan pendapat. Pun demikian halnya ketika dalam Pemilihan, media sosial menjadi senjata yang lumayan ampuh guna menyaring suara. Media sosial merupakan cara yang murah dan efektif dalam mendongkrak popularitas seorang calon. Karena itulah, tak heran banyak aksi saling endorse dan dukung pasangan pun mewarnai media sosial. Bahkan lama kelamaan makin ramai dan "panas" kala pendukung seorang calon saling bersitegang dengan pendukung calon yang lain dengan saling melem...
Kita ketahui bersama belakangan ini dunia diramaikan dengan kasus meledaknya ponsel Samsung Galaxy Note 7. Kasus sungguh mengejutkan karena menimpa sebuah brand global yang kerap merajai pasar penjualan ponsel. Pun dengan series Note yang sebenarnya masuk kategori flagship, membuat publik seolah tidak percaya. Namun sejatinya kasus "memalukan" seperti ini bukan yang pertama. Ponsle sepremium iPhone pun pernah dianggap gagal setelah iPhone 6 ternyata mudah dibengkokkan. Mari sejenak melupakan dulu kasus-kasus tersebut. Pada hakikatnya seseorang menginginkan sebuah kesempurnaan. Pun saat memilih ponsel. Para produsen pun saling berlomba menciptakan ponsel secanggih mungkin demi mengikat para konsumen agar lebih loyal. Apalagi sebenarnya persaingan di pasar ponsel begitu ketat, sekali tertinggal langkah inovasi, maka akan semakin sulit mengejar para pesaing. Namun tentu ada harga yang harus dibayar. Dibalik kecanggihan ponsel, pasti harus ada sesuatu untuk dikorbankan. Misalny...
Pagi ini, seorang teman lama saya tiba-tiba memasukkan akun Facebook saya ke sebuah grup yang aneh. Grup berbahasa Inggris, yang tampaknya tidak terurus. Tampak aneh karena yang teman saya ini karakternya agaknya tidak mungkin menyarankan saya masuk ke grup yang tidak jelas seperti itu. Dan benar saja, ketika saya konfirmasi, ternyata dia tidak merasa memasukkan akun saya ke grup tersebut. Bahkan, tambahnya, sudah sekitar 1 tahun dirinya tidak aktif di Facebook. Passwordnya pun lupa. Saya pernah mengibaratkan jika media sosial bagaikan sebuah rumah di dunia maya. Kuncinya ada di password. Dan bila password jatuh ke tangan orang lain, maka terjadilah pencurian. Pun seperti rumah yang tak terurus, akun yang dibiarkan lama pun rawan dibobol oleh yang tidak berkepentingan. Mungkin ada baiknya ketika sudah tidak berminat untuk menggunakan sebuah akun media sosial lebih baik dihapus saja, alih-alih hanya menganggurkannya. Akun tak bertuan seperti itu tentu saja pengamanannya tak seperti a...
Komentar