Setiap musim pemilihan, baik itu Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada, selalu diramaikan dengan aksi para calon dan pendukungnya. Dan karena jaman sekarang aktivitas tidak hanya berkutat di dunia nyata, ranah media sosial pun menjadi sasaran. Bahkan mungkin bisa dikatakan kampanye melalui media sosial bisa lebih efektif, karena orang jaman sekarang lebih sering mengaksesnya ketimbang membaca koran ataupun menonton televisi yang sudah mulai ditinggalkan. Di media sosial, memang merupakan wahana yang efektif dalam menyalurkan pendapat. Pun demikian halnya ketika dalam Pemilihan, media sosial menjadi senjata yang lumayan ampuh guna menyaring suara. Media sosial merupakan cara yang murah dan efektif dalam mendongkrak popularitas seorang calon. Karena itulah, tak heran banyak aksi saling endorse dan dukung pasangan pun mewarnai media sosial. Bahkan lama kelamaan makin ramai dan "panas" kala pendukung seorang calon saling bersitegang dengan pendukung calon yang lain dengan saling melem...
Tahukah Anda, pada tahun 2012 kemarin setidaknya ada 12 juta kasus pencurian identitas, seperti yang ditulis di blog ICT Watch . Dan kebanyakan dari kasus tersebut, bersumber dari akun media sosial kita di Internet. Akibat kasus pencurian identitas ini tidak sederhana, ambil contoh ada orang yang memakai identitas kita untuk suatu kejahatan misalnya, atau setidaknya dengan identitas kita berbuat hal yang mencemarkan nama baik, misalnya dengan akun facebook, atau twitter kloningan. Saya memberi ibarat bahwa akun media sosial kita, dan juga email merupakan rumah kita di Internet. Pondasi utamanya adalah kemampuan kita memahami, dan mengerti akun kita. Sebagai pemilik rumah, menjadi tanggung jawab kita untuk mengatur posisi pintu dan jendela, kapan saat pintu dan jendela dibuka-tutup, maksudnya adalah kita sendiri yang sebenarnya bertanggung jawab dalam berpikir informasi saja yang pantas dibagi ke publik di media sosial, mana yang menjadi privasi. Mengerti Akun Kita Banyak ka...
Kita ketahui bersama belakangan ini dunia diramaikan dengan kasus meledaknya ponsel Samsung Galaxy Note 7. Kasus sungguh mengejutkan karena menimpa sebuah brand global yang kerap merajai pasar penjualan ponsel. Pun dengan series Note yang sebenarnya masuk kategori flagship, membuat publik seolah tidak percaya. Namun sejatinya kasus "memalukan" seperti ini bukan yang pertama. Ponsle sepremium iPhone pun pernah dianggap gagal setelah iPhone 6 ternyata mudah dibengkokkan. Mari sejenak melupakan dulu kasus-kasus tersebut. Pada hakikatnya seseorang menginginkan sebuah kesempurnaan. Pun saat memilih ponsel. Para produsen pun saling berlomba menciptakan ponsel secanggih mungkin demi mengikat para konsumen agar lebih loyal. Apalagi sebenarnya persaingan di pasar ponsel begitu ketat, sekali tertinggal langkah inovasi, maka akan semakin sulit mengejar para pesaing. Namun tentu ada harga yang harus dibayar. Dibalik kecanggihan ponsel, pasti harus ada sesuatu untuk dikorbankan. Misalny...
Komentar