Kamis, 19 Juni 2014

Teknologi Garis Gawang Menimbulkan Pro dan Kontra

Di Piala Dunia 2014 kali ini, FIFA berniat mengantisipasi masalah kontroversial di pertandingan sepak bola. Sebagai manusia biasa, wasit pun kerap kali melakukan kesalahan. Dan yang paling sering menjadi perdebatan adalah keputusan kontroversi dari sang pengadil apakah bola sudah melewati garis gawang (goal) atau belum. Biasanya pihak yang merasa dirugikan akan melakukan protes pada wasit.

Nah, untuk mengantisipasi kesalahan "manusiawi" sang wasit tersebut, FIFA mengadopsi teknologi garis gawang (goal line technology). Teknologi ini diklaim mampu membantu wasit dalam mengambil keputusan secara akurat. Dengan teknologi ini, secara otomatis apabila bola melewati gawang, maka jam tangan wasit akan bergetar dan memberi tanda bahwa telah terjadi gol. Dengan teknologi ini, maka wasit akan terbantu dan dengan tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

Layaknya sebuah kebijakan, banyak pihak yang menolak digunakannya teknologi ini dalam sepak bola. Salah satunya adalah Presiden UEFA dan mantan pemain timnas Perancis, Michel Platini. Menurutnya, sepak bola ini adalah olahraga yang menuntut "manusiawi" bukan teknologi. Artinya, sepak bola baiknya dikendalikan oleh manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, bukan bergantung pada teknologi. Kontroversi yang selama ini terjadi di sepak bola menjadi "bumbu" tersendiri, dan disitulah letak dari indahnya sepak bola. UEFA sendiri enggan mengadopsi teknologi ini, mereka memilih menempatkan seorang hakim garis di samping masing-masing gawang dalam pertandingan Liga Champions dan Europa League untuk mengawasi dengan lebih jelas, apakah bola memang sudah melewati garis gawang atau belum.

Sementara bagi pihak yang pro dengan kebijakan ini, teknologi tersebut dapat membantu wasit mengambil keputusan yang tepat dan cepat, sehingga tak lagi menyita banyak waktu permainan dengan protes-protes berlebihan. Salah satu yang mendukung diberlakukannya teknologi ini adalah pemain timnas Inggris, Frank Lampard. Menurutnya, teknologi tidaklah "diharamkan" dalam sepak bola, selama dia tidak merusak permainan. 

Pro kontra ini terus berlanjut dengan argumennya masing-masing. Namun, selaku fans, kita berharap hal ini tidaklah mempengaruhi keindahan permainan sepak bola itu sendiri. Pro kontra tetap ada, namun juga sebaiknya tidak mempengaruhi esensi permainan sepak bola itu sendiri. Saya membayangkan bagaimana perasaan Michel Platini sekarang, ketika Timnas negaranya, Perancis saat lawan Honduras. Gol dari Perancis disahkan melalui teknologi garis gawang. Berpulang pada Anda, mau di jalur pro atau kontra dari teknologi ini?

Referensi :
Bola.net

Senin, 16 Juni 2014

Hiruk Pikuk Pilpres dan Piala Dunia di Media Sosial

Pertengahan tahun 2014 ini terasa lumayan spesial. Ada dua 'hajatan' besar dengan skala nasional dan dunia. Selain Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan dilaksanakan pada 9 Juli nanti, juga adanya gelaran Piala Dunia di Brazil. Pilpres hadir lima tahun sekali, dan Piala Dunia diselenggarakan empat tahun sekali, jadi datangnya dua hajatan besar ini secara bersamaan sungguh langka dan menyita banyak perhatian serta kemeriahaan.

Pemilihan Presiden kali ini hanya diikuti oleh dua pasangan calon, menjadikannya lebih semarak hingga muncul dua kubu. Masing-masing pendukung saling membanggakan calon favoritnya juga sekaligus sinis pada calon satunya lagi. Tidak ada yang salah memang, sejauh masih dalam batas-batas wajar untuk saling mensosialisasikan program serta ide-ide dari calon favoritnya demi masa depan bangsa ini. Namun terkadang saling sindir dan nyinyir ini menjadi sedikit berlebihan, bahkan sampai terjadi perkelahian. Hal ini menunjukkan sepertinya rakyat kita belum terlalu dewasa dalam berpolitik.

Setiap hari, saling serang terjadi antar dua kubu pendukung calon Presiden, terutama di media sosial. Namun, sedikit saran dari saya, alangkah baiknya saling serang dengan lebih mengedepankan gagasan serta program, bukan dengan berdebat untuk hal-hal yang tidak penting. Kedua calon bukanlah manusia yang sempurna, dan tentunya satu dengan yang lainnya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Itulah gunanya diadakan Debat Capres yang ditayangkan LIVE di televisi seminggu sekali, agar rakyat mengetahui gagasan calon presiden dan mau dibawa kemana Indonesia ke depan. Inilah yang harusnya menjadi 'bahan' untuk saling diperdebatkan oleh kedua pendukung.

Untunglah dalam kondisi kampanye Pilpres yang berjalan "panas" di media sosial, diimbangi dengan kemeriahan datangnya Piala Dunia. Dengan ini sedikit melemaskan urat saraf yang dipakai saling ngotot, diimbangi dengan twit serta posting santai mengomentari pertandingan di Piala Dunia. Bagi penggemar sepak bola, ajang empat-tahunan ini tentunya menarik untuk ditunggu, meski negeri kita lagi-lagi tidak mampu berpartisipasi di kejuaraan ini, namun tidak mempengaruhi antusiasme kita dalam menyambutnya kan?

Bagi yang tidak menyukai sepak bola, ada baiknya 'belajar' dalam menikmati Piala Dunia kali ini. Sepak bola adalah olahraga universal, dan meliputi banyak aspek tak hanya olahraga semata. Dari sana ada aspek entertaintment serta seni yang tidak dapat saya ceritakan disini, namun cobalah Anda menonton salah satu pertandingannya, selama 90 menit, maka akan ada banyak pengalaman unik yang bisa kita rasakan.

Dan meski kondisi sedang panas karena urusan copras-capres, cobalah sedikit menikmati sepak bola secara jujur, dan tak perlu menghubung-hubungkan ke masalah politik. FIFA sendiri sudah mewanti-wanti untuk tidak mencampur-adukkan politik dengan sepak bola, jadi santai saja, nikmati momen yang hanya datang empat tahun sekali ini. Dan ada baiknya kita istirahat di sore ini, karena nanti malam ada pertandingan bigmatch yang sayang untuk dilewatkan, Jerman vs Portugal. Selamat menyaksikan, dan Selamat memilih Presiden baru 9 Juli nanti.