Jumat, 14 Februari 2014

Ganggu Jam Tidur, Habiskan Waktu, Namun Kita Menyukainya

Ketika masih kecil, saya jarang bermain di luar rumah. Kebanyakan waktu saya habiskan di depan televisi. Saya masih ingat, dari sejak televisi hanya 1 channel, dan pemiliknya diwajibkan membayar iuran televisi tiap bulannya. Jangankan banyak channel, pemilik televisi berwarna pun hanya beberapa, kebanyakan hitam putih, jarang dinyalakan, acara favorit cuma berita dan acara khusus anak-anak di hari Minggu saja. Jika ingin mendapat banyak chanel, orang yang mampu biasanya menggunakan parabola, dan harganya lumayan mahal kala itu. 

Pertengahan tahun 1990an baru mulai berkembang, channel-channel baru bermunculan, acara lebih variatif dan iuran televisi juga sudah tidak ada lagi. Era baru kembali dimulai, televisi tidak hanya menjadi simbol status. Televisi menjadi teman sehari-hari, menjadi sumber utama informasi dan hiburan. Radio mulai jarang digunakan, bahkan jikapun ada tak lebih sebagai 'pendamping' televisi.

Kemudian komputer (dan) internet mulai berkembang, sedikit demi sedikit teknologi beralih ke hal yang lebih cepat dan menyenangkan. Dari hanya mulai menyediakan website-website informasi, kini internet diramaikan dengan menjamurnya media sosial. Orang saling menyapa, saling ngobrol, dan berhubungan satu sama lain melalui internet. Cara mengaksesnya pun lebih simple dan mudah, dari yang awalnya menggunakan komputer, kini orang lebih menggunakan ponsel. Sama seperti radio, pelan-pelan televisi pun menjadi media pendamping internet. Tak jarang, saat menonton televisi, orang berbagi opini serta apa yang dia tonton ke akun media sosial miliknya.

Perkembangan teknologi di atas memiliki beberapa kesamaan. Kesemuanya menyita banyak waktu. Ketika televisi 'booming' dan menjadi tren, orang butuh televisi sebagai media hiburan. Saya dulu bahkan hafal acara televisi dari pagi hingga malam hari setiap harinya. Saat memiliki waktu luang, hal pertama yang terpikirkan adalah menonton televisi sebagai hiburan. Pun di era internet dan media sosial saat ini, teknologi juga semakin membuat penggunanya kecanduan. Bahkan, lebih parah! 

Kecanduan internet dan media sosial saat ini sering tidak mempedulikan tempat dan waktu, dimana saja, asal bisa mengakses internet, orang makin kecanduan. Di angkutan umum, di mall, cafe, dan lain sebagainya, banyak orang yang sibuk dengan gadgetnya. Pun mereka tidak peduli waktu, bangun tidur, alat pertama yang dipegang adalah ponsel, dan mengakses akun Facebook atau Twitter untuk mengapdet status, sekedar mengucapkan selamat pagi. Dan di jam-jam berikutnya, kecanduang itupun tidak berhenti. Satu demi satu mereka mengungkapkan apa yang dirasakan ke jejaring sosial. Dunia harus tahu, tak peduli itu penting ataupun tidak, tak peduli lagi privasi, yang penting eksis di media sosial. Berlanjut hingga malam pun fenomena ini tak berhenti. Tak jarang pula yang tidur 'bersama' gadgetnya, stand by jikalau ada yang mengirim pesan instant ataupun mengomentari statusnya, disadari ataupun tidak, waktu tidurnya pun berkurang.

Itu hanya sedikit dampak negatif dari teknologi, membuat kecanduan. Namun tentunya kita masih bisa berusaha mengendalikannya. Jangan menghentikan penggunaan internet. Manfaatnya terlalu bisa jika kita tak lagi mau menggunakannya hanya karena kecanduan. Kita begitu menyukainya kan? Tidak masalah, generasi sebelum kita juga 'tergila-gila' dengan radio dan televisi mereka. Jadi, tetaplah ambil sisi positif dari online. Dan konon sekarang Hari Kasih Sayang, sudah memberi apa pada gadget yang kita sayangi?

Rabu, 12 Februari 2014

Teknologi Internet yang Makin 'Bebas'

Sascha Lobo, seorang Blogger asal Jerman mengatakan bahwa saat ini Internet Sudah rusak. Internet sudah mulai bergeser fungsi dari yang tadinya sebagai penyedia informasi menjadi 'alat' untuk mengganggu ranah pribadi orang lain berupa penyadapan. Sebelumnya juga Edward Snowden, mantan kontraktor agen keamanan Amerika, NSA juga mengatakan bahwa NSA melakukan penyadapan di internet bekerjasama dengan beberapa situs terkemuka.

Bagi beberapa kalangan, ini bukanlah masalah serius, hanya saja memang keamanan internet sudah menjadi hal penting sebagai prioritas. Internet juga menjadi lahan kejahatan bagi para pencuri data, masuk ke akun pribadi, dan menyalahgunakan untuk perbuatan jahat. Ambil contoh ketika masuk ke akun Facebook seseorang, mengirimi teman pesan yang berupa penipuan, atau masuk ke akun internet banking, menguras uang yang ada di dalamnya, menjadi bukti betapa keamanan di ranah dunia maya ini juga perlu.

Semakin jauhnya fungsi internet yang tak hanya menjadi sumber berbagi informasi, penting untuk dijadikan perhatian kita semua. Mudahnya mengakses internet dimanapun dan kapanpun, serta terkadang kita lupa untuk mengamankan serta memprivasi data digital kita. wifi yang bersifat publik, warnet menjadi sasaran empuk para peretas serta pencuri data jika kita tidak berhati-hati dalam menggunakannya.

Setiap kita login, dan masuk ke akun kita, sebenarnya adalah awal mula kita mengunggah data-data digital kita ke internet yang bersifat bebas dan dapat diakses oleh orang yang berniat jahat sekalipun. Kadang inilah salah satu alasan mengapa kita perlu lebih memproteksi dengan password yang unik, enkripsi, serta verifikasi berlapis sebelum masuk ke akun kita, serta benar-benar logout keluar ketika kita sudah tidak menggunakannya. Mungkin sedikit ribet dan merepotkan, namun layaknya rumah yang harus dikunci jika tidak ingin ada orang lain masuk, pun begitu pula akun dan data internet kita memang perlu perjuangan sedikit sulit untuk mengamankannya dari kejahatan.

Jadi, sambil menunggu keamanan internet menjadi lebih baik, mari kita perhatikan akun sendiri, pastikan aman dan tidak ada yang 'mengintip' karena kehidupan saat ini tidak akan bisa lepas sama sekali dari internet setiap harinya. Lebih baik mencegah daripada menyesal nantinya.