Sabtu, 06 September 2014

Kebebasan dan Etika Media Sosial

Permalink gambar yang terpasang
Setelah kasus Florence yang menuliskan kata kasar soal Yogyakarta, serta menyebarnya foto tidak seronok artis Hollywood dari iCloud mereka, hari ini dihebohkan dengan langkah Walikota Bandung, Ridwan Kamil melaporkan salah satu akun twitter bernama @kemalsept ke kepolisian. Laporannya, terkait penghinaan kepada sang Walikota dengan kata-kata kasar dan melecehkan.
 
Kasus yang berkaitan mengenai etika saat online sudah banyak terjadi, namun uniknya, belum dapat dijadikan pembelajaran dalam menggunakan media sosial secara bijak. Selalu saja, ada yang terjebak untuk kasus yang sama, seperti bullying,pornografi, dan penghinaan.
 
Dunia media sosial dan internet memang memberikan kebebasan pada siapa saja penggunanya. Orang bisa menulis apapun dalam pikirannya di media sosial. Namun, apapun yang namanya kebebasan, tentunya memiliki batasan-batasan dan norma-norma yang harus dipatuhi, demi kenyamanan semua orang. Internet bukanlah milik kita sendiri, ini merupakan "area publik" yang memungkinkan semua orang bebas dalam menggunakannya.
 
Hargai Orang Lain
Orang satu dengan yang lain memiliki perbedaan karakter. Ada orang yang biasa saja saat dihina, ada pula yang gampang panas. Melaporkan bullying, maupun penghinaan dan membawanya ke ranah hukum bukanlah sebuah kesalahan. Undang-undang memungkinkan hal tersebut. Yang terpenting saat ini adalah, menghindari diri sendiri agar tidak tersangkut kasus serupa. Lebih bijak sebelum ngetwit, maupun posting dan benar-benar berpikir terhadap dampak yang ditimbulkan. Perlu adanya sikap saling menghargai dengan pengguna media sosial yang lain. Jangan  terlalu bebas bermain-main. Bila itu Anda lakukan, bisa jadi Anda korban berikutnya yang akan dilaporkan ke polisi. Minimal akun Anda akan disuspend.
 
Berpikir Berulang Kali
Kasus hacker yang menyebarkan foto bugil artis-artis Hollywood yang sebelumnya disimpan di iCloud membuat publik bertanya-tanya. Layanan penyimpanan yang seharusnya menyimpan data-data privasi, ternyata bisa juga terbuka dan diumbar ke publik. Ada baiknya mulai berpikir dua kali untuk mengupload data-data pribadi seperti ini di internet, atau untuk amannya, tak perlu melakukan hal-hal konyol yang suatu saat mungkin bisa menjadi bumerang bagi kita.

Sumber Gambar : akun twitter @ridwankamil

Kamis, 19 Juni 2014

Teknologi Garis Gawang Menimbulkan Pro dan Kontra

Di Piala Dunia 2014 kali ini, FIFA berniat mengantisipasi masalah kontroversial di pertandingan sepak bola. Sebagai manusia biasa, wasit pun kerap kali melakukan kesalahan. Dan yang paling sering menjadi perdebatan adalah keputusan kontroversi dari sang pengadil apakah bola sudah melewati garis gawang (goal) atau belum. Biasanya pihak yang merasa dirugikan akan melakukan protes pada wasit.

Nah, untuk mengantisipasi kesalahan "manusiawi" sang wasit tersebut, FIFA mengadopsi teknologi garis gawang (goal line technology). Teknologi ini diklaim mampu membantu wasit dalam mengambil keputusan secara akurat. Dengan teknologi ini, secara otomatis apabila bola melewati gawang, maka jam tangan wasit akan bergetar dan memberi tanda bahwa telah terjadi gol. Dengan teknologi ini, maka wasit akan terbantu dan dengan tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

Layaknya sebuah kebijakan, banyak pihak yang menolak digunakannya teknologi ini dalam sepak bola. Salah satunya adalah Presiden UEFA dan mantan pemain timnas Perancis, Michel Platini. Menurutnya, sepak bola ini adalah olahraga yang menuntut "manusiawi" bukan teknologi. Artinya, sepak bola baiknya dikendalikan oleh manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, bukan bergantung pada teknologi. Kontroversi yang selama ini terjadi di sepak bola menjadi "bumbu" tersendiri, dan disitulah letak dari indahnya sepak bola. UEFA sendiri enggan mengadopsi teknologi ini, mereka memilih menempatkan seorang hakim garis di samping masing-masing gawang dalam pertandingan Liga Champions dan Europa League untuk mengawasi dengan lebih jelas, apakah bola memang sudah melewati garis gawang atau belum.

Sementara bagi pihak yang pro dengan kebijakan ini, teknologi tersebut dapat membantu wasit mengambil keputusan yang tepat dan cepat, sehingga tak lagi menyita banyak waktu permainan dengan protes-protes berlebihan. Salah satu yang mendukung diberlakukannya teknologi ini adalah pemain timnas Inggris, Frank Lampard. Menurutnya, teknologi tidaklah "diharamkan" dalam sepak bola, selama dia tidak merusak permainan. 

Pro kontra ini terus berlanjut dengan argumennya masing-masing. Namun, selaku fans, kita berharap hal ini tidaklah mempengaruhi keindahan permainan sepak bola itu sendiri. Pro kontra tetap ada, namun juga sebaiknya tidak mempengaruhi esensi permainan sepak bola itu sendiri. Saya membayangkan bagaimana perasaan Michel Platini sekarang, ketika Timnas negaranya, Perancis saat lawan Honduras. Gol dari Perancis disahkan melalui teknologi garis gawang. Berpulang pada Anda, mau di jalur pro atau kontra dari teknologi ini?

Referensi :
Bola.net